Confusing Confused Story

Confused Story, bukan confusing.

Mengapa?

Karena saya menulisnya pada saat saya sedang bosan dan asal menulis Cerpen di tengah-tengah kekurang kerjaan saya.

Jadilah sebuah cerita yang maksa dan tidak jelas.

Mau mencoba membacanya?

Keajaiban Yang Dipaksakan

Pernahkah kalian merasa bahwa hidup ini aneh? Aku selalu merasa bahwa hidup ini aneh. Mengapa? Yah… Coba kalian lihat kehidupanku sebagai contoh, kalian akan merasa bahwa hidup ini benar-benar penuh kejutan.

Cerita ini bermulai ketika aku dan teman-temanku masih kelas 1 SMA. Saat itu aku sedang bersantai, disinari sinar mentari pagi yang hangat, merasakan sejuknya angin sepoi-sepoi, sambil tiduran di meja kelasku, di tengah pelajaran matematika. Jangan mencoba menyalahkanku, kalian pasti pernah tertidur di kelaskan? Bila tidak mungkin memang kalian sangat rajin, seperti teman sebangkuku, Kurnia Dwisurya, atau biasa kupanggil Rei. Kalian bisa memanggilnya laki-laki nyaris sempurna, dengan tubuh tinggi tegap, kulit putih, dan merupakan contoh yang tepat untuk seorang pemuda yang gagah, dia itu orangnya tampan, baik, kaya, pintar, rajin, atletis, juara kelas pula. Lalu apa kekurangannya? Mungkin satu-satunya kekurangannya adalah dia terlalu sering bergaul denganku dan ‘orang itu’. Siapa? Yang kumaksud dengan ‘orang itu’ adalah Fariz Jurnianto, atau biasa kupanggil Juy.

Kalau kalian penasaran seperti apa dia, dia duduk dibelakangku, dia tidur jauh lebih nyenyak daripada aku. Hanya saja dia berbeda denganku, walaupun pemalas, dia itu jenius. Kalau saja dia rajin mengerjakan tugas dan PR, dia pasti sudah menjadi juara kelas. Yah, aku tak yakin dia menginginkan gelar itu sih. Selain pintar, bisa dibilang Juy itu adalah orang tertampan yang pernah kulihat, memiliki kulit putih bersih, wajah yang sering tersenyum, dan dengan sekali lihat kita dapat mengetahui bahwa dia adalah anak muda yang energis dan hiperaktif, ketampananya mungkin melebihi artis-artis film dan para model majalah itu. Selain itu dia memiliki bakat aneh dalam hal bongkar-pasang segala alat elektronik, mungkin ini disebabkan karena ayahnya memiliki banyak sekali barang ‘ajaib’ di rumahnya.

Jika ditanya, aku akan mengatakan bahwa kami bertiga adalah sahabat baik. Kami bertiga memang selalu bersama, mau ke kantin, mall, warnet, rental ps, tukang cukur rambut, dokter gigi, toko buku, gudang sekolah, ruang eskul, selokan, sungai, sawah, laut, pulau terpencil, taman bacaan, sampai ke kamar mandi pun bersama. Oh ya, untuk beberapa tempat, aku hanya bercanda kok, sungguh. Jadi jangan membayangkan hal-hal aneh ya. Karena selalu bersama, kami disebut Trio orang aneh. Nah, sekarang terjawab sudah, apasebenarnya kekurangan Rei. Yah, walaupun kami bertiga agak bingung mengapa kami disebut orang aneh. Apa mungkin karena hobi kami yah? Rei itu pencinta Anime dan Manga, sedangkan Juy maniak fiksi ilmiah. Bagaimana denganku? Yah, tak ada yang spesial dariku, aku hanya melakukan apa yang aku anggap menarik saat aku melakukannya.

Kembali ke cerita, sampai mana tadi? Oh ya, jam pelajaran matematika. Aku terbangun tepat pada saat bel berbunyi.

“Yah, ada PR lagi, matematika pula.” gumamku saat melihat kearah papan tulis.

“Hey Zem, tumben kamu sudah bangun.” yang membalas gumamanku adalah Rei

Oh ya, ngomong-ngomong Zem itu panggilanku, kami bertiga memang punya kebiasaan memanggil satu sama lain dengan nama panggilan aneh yang kami ciptakan sendiri.

“Apa sih Rei? Yang tumben itu bukannya si Juy yang masih tidur di jam istirahat?”

“Hah? Sudah jam istirahat ya?”

Yah, bangun deh si biang masalah tukang makan yang kemana-mana jalan sambil nyanyi-nyanyi sendiri.

“Biang masalah apaan? Aku kan cuma sering menimbulkan masalah.”

“Jangan bilang kamu lagi bercanda, karena itu sama sekali tidak lucu”

Rei membalas protes Juy dengan senyuman sinis.

Seakan-akan datang untuk memisahkan kedua orang yang gemar berdebat itu, KM kami, Indah datang menghampiri kami.

“Ada apa Ketua? Tumben kamu masih di kelas.” kataku.

“Bukan urusanmu, lagipula aku bukan kesini untuk berbicara denganmu kok.” balasnya.

“Lah, barusan apa dong kalau bukan bicara? Ngigau? Atau ngomong dengan teman khayalanmu?”

“Ah, kamu diam saja sana! Kurnia, barusan kamu dipanggil Bu Yuli ke kantornya.”

Jantungku berdegup kencang, keringat dingin keluar dari punggungku, nafasku menjadi sesak, dan mataku berkunang-kunang mendengar nama itu. Nasib malang apa yang menimpa sahabatku yang rajin ini? Seluruh murid di sekolah kenal Bu Yuli, guru yang disebut-sebut sebagai guru killer terkejam yang pernah ada di dunia ini. Yang sialnya merupakan wali kelasku. Walaupun terkenal sering memanggil anak-anak nakal ke kantornya, tetapi biasanya korban kekejamannya di kelasku hanyalah aku dan teman seperjuanganku si Juy.

“Ya sudah ya, aku mau ke kantin dulu, lagipula aku nggak bakalan mau terlibat dalam masalah kalian walaupun dibayar berapapun, dah…” kata Indah sambil berlalu.

Hei, yang benar saja nih, kamu telah memberikan kami sebuah berita yang lebih buruk dari kematian presiden AS dan sekarang kamu mau begitu saja meninggalkan kami di sini?

“Woy Rei, kamu memangnya melakukan hal apa sampai-sampai dipanggil oleh Bu Yuli? Jangan-jangan kamu ketahuan baca komik porno ya?” kataku panik.

“Tentu saja tidak, memangnya aku selevel denganmu? Aku sendiri tidak tahu mengapa aku dipanggil, tapi yang pasti walaupun aku melakukan sesuatu yang salah, pasti tidak akan separah kamu kok.” Balasnya.

Entah mengapa aku mendapat perasaan aneh, campuran antara lega dan kesal.

“Woy Juy, pikirkan dong gimana caranya menyelamatkan teman kita ini!”

“Baik, bagaimana kalau kita bangun pesawat ruang angkasa dan kirim Rei ke Black Hole? Bu Yuli nggak bakalan deh bisa nemuin dia di sana.”

“Goblok kamu, ide macam itu nggak bakal berhasil.” Kataku sambil berusaha memukul Juy.

“Gimana caranya kita pulangin Rei? Dia anak orang loh, bukan anak monyet. Sepertinya akan lebih baik kalau sekarang kita bunuh saja si Rei. Setidaknya dia tidak akan tersiksa dulu sebelum mati.” kataku lagi.

“Ah, betul juga. Bagaimana Rei? Pilih pakai pisau, pistol, gergaji, tang, kampak, pedang, racun, atau celana dalam Zem?”

Setelah mendengar pembicaraan kami itu, Rei melakukan sesuatu yang dapat dibandingkan dengan tragedi penyiksaan tahanan ala Gengis Khan, sesuatu yang tidak dapat aku tuliskan disini.

“Sudahlah, kalian tenang dulu dan beristirahatlah dalam damai disini. Aku pergi dulu ke kantor Bu Yuli.” Setelah mengatakan itu, Rei pun pergi ke tempat yang terkenal sebagai alam barzah itu, sambil meninggalkan kami yang hanya dapat melihatnya pergi sambil terbaring lemah di UKS.

5 menit kemudian…

“Sudah 5 menit Rei pergi ke alam barzah, apa dia bisa kembali dengan selamat ya?” kataku.

“Lebih baik kamu khawatirkan diri kita sendiri. Dan Hitam kendo milik Rei telah ‘membaringkan’ kita di ruangan bau ini, selain itu dia juga meninggalkan ‘tanda tangannya’ di pipi dan mataku.” kata Juy yang berbaring di tempat tidur sebelahku.

“Kalau kamu mau, aku bisa meninggalkan ‘tanda tanganku’ di tempat lain juga loh.”

Bicara soal panjang umur, ini dia satu-satunya orang yang berhasil kembali dengan selamat dari alam barzah, bahkan ia membawa buah tangan.

“Wah Rei, nggak usah repot-repot deh.” Kata Juy dengan senyumannya yang biasa.

“Apa? Mau ini?” kata Rei sambil mengibas-ngibaskan satu kotak coklat yang tampaknya impor itu.

“Habis ngerampok dimana kamu Rei?” tanyaku.

“Biasa, ini sogokan Bu Yuli supaya aku mau ikut lomba murid teladan tahun ini.”

“Hah? Dari Bu Yuli? Rei, lebih baik kamu hati-hati, jangan-jangan didalam coklat itu ada ramuan pencuci otak lagi.” kata Juy.

“Biarkan saja, mumpung gratis.” kataku sambil merebut kotak tersebut dari Rei.

“Eit, tunggu dulu. Siapa bilang aku mau membagi-bagi coklat ini dengan kalian?” kata Rei sambil merebut kembali coklat itu dari tanganku.

“Apa sih, pelit banget kamu Rei.” kataku sambil mencibir ke arahnya.

“Ini oleh-oleh untuk ayahku.”

Aku jadi teringat kembali, sudah satu setengah tahun ayahnya Rei koma akibat sebuah kecelakaan pesawat. Selain itu, jantung ayahnya juga tidak bisa berfungsi normal, sehingga harus dipasangi alat perangsang detak jantung. Sementara Ayahnya sakit, Ibu dan kakak-kakak Rei menggantikan pekerjaannya. Karena itu, sebagai satu-satunya yang belum bekerja, Reilah yang selalu mengurus ayahnya.

“Ya sudah deh, asalkan kita boleh ikutan menjenguk ayahmu ya?” kataku.

“Iya, jadi nanti kalau ayahmu nggak mau memakan coklat itu, nanti coklatnya bias kita makan.” kata Juy sambil tersenyum dengan sangat lebar, sampai-sampai menyerupai sebuah seringai.

“Ya boleh-boleh saja sih, tapi nanti ya, sepulang sekolah. Sekarang kita ada pelajaran Sejarah dan Geografi dulu.” Kata Rei sambil menghela nafas.

Tentu saja, dengan alasan masih merasa sakit, aku dan Juy kembali berbaring dengan santai di ruang UKS.

“Huf, nyaris saja Rei menyeret kita ke pelajaran membosankan itu.”

Juy mengatakan hal itu sambil mulai berbaring santai dengan dua telapak tangannya bertumpuk di belakang kepalanya. Keheningan yang muncul sesaat setelah Juy menutup matanya benar-benar menambah nuansa keren yang biasanya dia keluarkan saat sedang serius. Kalau dia mau bersikap normal dan tidak bersikap aneh setiap saat, sepertinya dia akan menjadi anak paling keren se-sekolah, begtitulah menurutku.

Sebagai tes, aku mencoba untuk mengatakan apa yang baru saja kupikirkan itu.

“Itu adalah hal yang menarik untuk ditanyakan.”

Dia lalu membuat sebuah ekspresi seakan-akan dia baru saja tertawa terbahak-bahak.

“Aku tak pernah mengerti alasan dibalik pertanyaan apakah seseorang itu keren, ganteng atau bahkan aneh dan ‘amit-amit’, yang sialnya merupakan sebuah pertanyaan yang biasa diucapkan di dunia ini. Aku ini selalu berusaha bersikap rasional dan logis, sehingga tidak peduli waktu, tempat, atau situasinya, aku selalu menerima relita secara apa adanya, secara emosional dan sentimental. Sedangkan melalui sebuah proses analisa dan penelitian, hal seperti rasa suka pada lawan jenis dan semacamnya itu bisa menjadi tidak memiliki arti apa-apa selain bunyi-bunyian yang mengganggu. Aku tak yang menghalangi proses evolusi manusia terhadap otonomi. Terutama rasa cinta, menurutku itu merupakan sejenis penyakit kejiwaan.”

Oh, begitu ya?

“Dulu sekali, ada seseorang yang mengatakan hal yang mirip seperti itu. Itu adalah sebuah pernyataan yang sangat memancing orang untuk berpikir keras, jadi aku masih mengingatnya sampai sekarang. Kamu mungkin ingin mengatakan hal gila seperti ‘bila cinta itu tidak ada, tak akan ada pernikahan dan anak tidak akan bisa lahir.’”

Aku tetap diam tanpa bisa mengatakan sepatah kata pun.

Baiklah, apa yang mau kukatakan?

“Lihatlah binatang. Ada beberapa jenis binatang yang sepertinya sangat menyayangi anaknya, melindunginya, dan membesarkan mereka. Tapi semua itu tak berasal dari rasa cinta.”

Dia mengatakan semua itu dalam satu nafas, lalu menggerakan sedikit sekali dari sudut bibirnya.

Itu adalah sebuah senyuman yang memberikan kesan jahat.

Sepertinya dia ingin aku menanyakan sesuatu padanya, jadi aku bertanya.

“Baiklah, lalu semua itu berasal dari apa?”

Lalu dia mengatakan ini:

“Insting.” dan mulai dari sini, dia membuatku mendengarkan sebuah penjelasan sepihak yang menjelaskan apakah cinta dan emosi atau perasaan adalah hal yang berbeda, apakah semua itu satu, dan jika semua itu memang satu, bisakah semua itu dibagi-bagi, dan ketika dia mulai menceritakan sebuah analisis rhetoristis tentang apakah sifat dasar manusia itu baik atau jahat, bayangan dari pihak ketiga menghampiri kami.

Itu adalah Rei yang baru saja kembali dari kelas sambil membawakan tas kami yang lupa kami ambil dari kelas.

Bersamaan dengan itu, bunyi bel pulang sekolah berbunyi, mendengarnya membuat perasaanku lega.

Setengah jam kemudian kami telah tiba di Rumah Sakit tempat ayah Rei dirawat, tempat ini sudah menjadi tempat nongkrong rutin kami sepulang sekolah. Seperti biasa, kami berjalan melewati koridor-koridor panjang dan menyeramkan ala rumah sakit besar. Bahkan kami sudah biasa dengan keanehan kepala rumah sakit yang memajang foto close-up dirinya sendiri di setiap kamar pasien. Karena itu, pada saat kami mencapai kamar tempat ayah Rei dirawat, yang membuat kami kaget bukanlah fakta bahwa wajah kepala rumah sakit ini jauh lebih jelek daripada bokong babon yang belum dibersihkan, bukan pula fakta bahwa Rei memiliki obsesi aneh yang ia salurkan dengan cara menghiasi kamar ayahnya dengan beludru berwarna merah muda, bukan, sama sekali bukan.

Yang membuat kami terkejut adalah fakta bahwa alat perangsang detak jantung yang seharusnya menyokong kehidupan ayah Rei siang dan malam itu, tiba-tiba mati.

“Gawat, bagaimana ini? Bisa-bisa jantung ayahku tidak dapat berfungsi dengan baik dan kemudian berhenti.” kata Rei dengan nada panik.

“Tenang saja Rei paling-paling kalau detak jantung ayahmu berhenti, kita sudah telat untuk menyelamatkannya, atau kalau misalnya benda rusak itu sebenarnya konslet dan telah mencelakakan ayahmu, kita tak mungkin dapat memanggil dokter tepat waktu,  kesimpulannya, paling-paling ayahmu mati.”

Guyonanku itu kemudian dibayar dengan satu tonjokan keras dari tangan besi Rei.

“Ini bukan saatnya bercanda, nyawa ayahku jadi taruhannya. Tak terbayangkan aku akan melakukan hal seperi ini tetapi Juy, aku butuh kamu untuk menolongku menyelamatkan ayahku.”

“Serahkan saja padaku, tapi nanti minta coklatnya ya.” Kata Juy dengan senyuman yang lebih bersinar daripada matahari di musim kemarau.

“Kebetulan aku selalu membawa kotak peralatanku kalau-kalau hal seperti ini terjadi.” Katanya sambil mengeluarkan sebuah kotak besar dari dalam tasnya.

Di dalam kotak itu aku melihat banyak sekali alat-alat seperti obeng, palu, gergaji, ampelas, gergaji, kunci inggris, sirkuit listrik, bahkan buku teknik dan majalah fiksi ilmiah pun ada di dalamnya. Sesaat aku berpikir sambil melihat kearah benda-benda aneh yang dikeluarkan Juy dari dalam kotak tersebut. Sekilas muncul akal sehat dari dalam kepalaku.

“Rei.”

“Apa?”

“Kenapa kamu minta tolong sama Juy?”

“Bukankah sudah jelas? Karena diantar kita bertiga, dialah yang paling pintar dalam hal elektronika.”

“Kenapa tidak minta tolong petugas rumah sakit saja?”

Keheningan sesaat muncul di antara kami berdua.

“Kenapa tidak bilang dari tadi? Nasinya sudah jadi bubur nih.”

“Yah, mau bagaimana lagi.”

“Sudahlah, biarkan saja. Lagipula jarang kan, si Juy bisa berguna seperti ini.”

Memang sih, tapi kenapa perasaanku nggak enak ya?

“Jadi!” kata Juy senang.

Bagaimana mengatakannya ya? Sudah kuduga? Alih-alih alat perangsang detak jantung yang setiap hari biasa kami lihat di rumah sakit ini. Alat buatan Juy memiliki sebauh monitor berwarna hijau, dengan bagian lain berwarna hitam, tombol-tombol aneh dibawahnya, beberapa antena aneh yang keluar dari puncaknya, sebuah colokan listrik, dan benda yang terlihat seperti ekor kalajengking menggantung lemas di belakangnya.

“Bagaimana? Kunamakan alat ini Jantung Scorpion dengan alat ini, ayahnya Rei pasti selamat. Eh?”

Sepertinya Rei sudah kehabisan akal, ia memungut sebuah palu yang tergeletak di dekat kakinya dan mulai mengayun-ayunkan palu tersebut kearah Juy.

“Apa yang kaulakukan? Kepalaku bisa pecah karena senjata pusaka tukang batu itu. Apa nafsu psycho tiba-tiba mulai muncul didalam dirimu?” kata Juy ketakutan.

“Siapa yang menyuruhmu membuat sebuah properti film fiksi ilmiah hah? Biarlah pecah kepalamu. Setidaknya kami bisa tahu apa yang sebenarnya ada di dalam otakmu.” kata Rei sambil menahan amarah.

“Oh? Bagus sekali, dan mungkin kalian akan menemukan alien di kepalaku. Itukah yang kamu harapkan?” kata Juy.

“Tentu saja tidak, yang ada di kepalamu paling-paling lintah angkasa.” Kataku

“Begitukah balasan kalian pada orang yang membantu kalian? Kalian menganggap aku ini induk semang dari seekor yerk?”

Untuk yang tidak tahu apa itu yerk, yerk adalah seekor alien parasit yang bercokol di otak makhluk hidup untuk kemudian menggunakannya sebagai induk semang dan mengendalikannya sesuka hati, yerk muncul sebagai makhluk antagonis di novel sicience fiction berjudul Animorph.

“Dia benar Rei, setidaknya berilah kesempatan untuknya, coba dulu alat buatannya baru putuskan mau diapakan dia.” Kataku membela Juy.

“Kamu benar, lebih baik kita coba dulu alat aneh ini, jangan menilai buku dari sampulnya, begitulah kata peribahasa.”

“Huh, terima kasih Zem, aku berhutang padamu.”

“Jangan berterima kasih padaku, aku hanya tak ingin dikenal sebagai Duo orang aneh, aku lebih nyaman dengan sebutan Trio, karena yang ada itu peribahasa setali tiga uang tak ada peribahasa setali dua uang.”

Selain itu, aku penasaran bagaimana cara benda aneh ini bekerja.

“Baiklah, colokkan dulu alat ini ke stop kontak, lalu kita colokkan ekornya ke jantung pasien.”

Kalau kalian melihat adegan ini, kalian pasti berteriak, ia memang mencolokkan ekor kalajengkingnya ke dada ayah Rei. Melihat adegan yang menyeramkan dan tak terduga ini, rahangku dan Rei terjatuh ke bawah, da kami tak bisa melakukan apa-apa, dan sementara kami terpaku di lantai, Juy mulai menekan tombol-tombol yang ada di alat tersebut dan setelah itu, muncullah tulisan-tulisan aneh di konitor alat tersebut.

“Tunggu dulu, apa yang kamu lakukan hah? Dasar psycho.” Kata Rei.

“Yep, selesai. Tenang saja Rei, ayahmu pasti akan sadar dari komanya.” Kata Juy sambil mencabut ekor alat tersebut dari dada ayah Rei.

“Apa maksudmu sembuh? Yang kaulakukan hanyalah memperparah keadaan tunggu sampai…”

Rei tak bisa menyelesaikan kata-katanya, ia hanyalah diam tanpa kata-kata sambil melihat kearah ayahnya yang tiba- tiba bangkit dari tidurnya yang telah berlangsung selama satu setengah tahun.

“Ah, Kurnia? Dimana bapak? Sudah berapa lama bapak disini? Dimana yang lain?”

Keajaiban memang terjadi, sulit menjelaskan bagaimana kejadian selanjutnya berlangsung. Untuk pertama kalinya kulihat Rei menangis, suli pula mengungkapkan wajah-wajah bahagia seluruh keluarga Rei pada saat melihat orang yang dianggap sempat dianggap tidak punya harapan hidup tersebut tersenyum dan berbicara, atau bagaimana raut wajah ayah Rei yang mengetahui dirinya telah koma selama satu setengah tahun, atau betapa lebarnya senyuman Jyu saat ia diberi lautan hadiah dari keluarga Rei yang sangat kaya itu, ia bahkan diberi selamat oleh para dokter, ditawarkan ribuan beasiswa dari berbagai universitas, dijanjikan pekerjaan dengan gaji yang menggiurkan dari banyak perusahaan, bahkan ia diundang untuk penganugerahan nobel di bidang medik. Padahal dia masih kelas 1 SMA dan masih berumur 15 tahun.

Beberapa minggu kemudian…

“Hah…, minggu yang sibuk. Aku harus kesana kemari mungutin hadiah di seluruh dunia. Sementara Rei liburan dengan keluarganya ke Bali.” Kata Juy kesal.

“Ya bagus kan, tapi mana hadiah bagianku?” kataku.

“Hah? Buat apa?”

“Tanpaku, kamu mungkin sudah dimakan cacing sekarang, jadi tulang belulang dengan tengkorak pecah.”

“Cih, ya deh.”

“Mau menjelaskan?”

“Apa?”

“Semuanya, kenapa kamu nggak bikin alat itu dari dulu? Kurnia nggak bakalan deh sesusah itu kalau kamu bikin alat itu dari dulu. Lalu, kenapa alatmu itu bisa bikin orang koma jadi hidup lagi?”

Hening sesaat, aku memang tak mengharapkan ia akan menjawab pertanyaanku, tapi…

“Pertama-tama, aku tak dapat membuat alat tersebut kalau Rei belum memintaku.”

“Tapi bukankah dia hanya memintamu untuk memperbaiki alat pengukur detak jantung yang rusak?”

“Dia bilang ‘tolong Bantu aku menyelamatkan ayahku’ kan?”

“Benar juga, lalu bagaimana cara alat anehmu itu bekerja?”

“Mau tahu rahasianya?”

“Tentu saja, ngapain aku nanya kalau bukan karena itu?”

“Yakin kamu sudah siap dengan jawabannya?”

“Yakin.”

“Rahasianya adalah keajaiban.”

“Hah? Jangan bercanda deh. Aku serius tahu.”

“Ingat kata-kataku ini, inilah yang selalu bahagia dan beruntung setiap saat. Keajaiban muncul disaat yang paling tak terduga. Aku takkan bisa menjelaskan mengapa aku dapat membuat alat itu, sebab cara membuat benda itu muncul secara tiba-tiba di kepalaku. Mulai dari cara menyalurkan energi listriknya, sampai cara mengubah energi tersebut menjadi energi kejut dan energi perangsang regenerasi sel.”

“Apa maksudmu? Aku sama sekali tidak mengerti.”

“Sudah kuduga, karena itu untuk saat ini percayalah pada keajaiban.”

Tiba-tiba aku mengerti semuanya, dari alasan mengapa Juy percaya bahwa alien itu ada sampai mengapa dia selalu bisa menyelesaikan masalah-masalah sulit. Itu semua karena dia percaya pada keajaiban.

“Hah, baiklah aku akan mencoba untuk mempercayai kata-kata anehmu untuk sekali ini.”

“Baguslah kalau kamu mau mempercayainya, lagipula keajaiban adalah satu-satunya alasan mengapa kita bertiga berteman.”

Maksudmu apa sih? Dasar orang aneh, sama seperti teori rhetoritismu yang bila disebarkan lewat internet pasti akan mengundang ribuan dukungan dan kecaman deri seluruh dunia.

“Hm? Ide yang bagus tuh, aku akan mencobanya, terima kasih atas sarannya. Ngomong-ngomong aku dapat ide soal cinta merupakan penyakit kejiwaan itu dari novel berjudul The Melancholy of Suzumiya Haruhi, jadi sebenarnya itu bukan murni ideku, aku hanya mengolah ide yang sudah jadi itu menjadi analisisku sendiri.”

Hah? Apa itu novel fiksi ilmiah lagi? Dan apa yang kamu lakukan barusan hah? Bagaimana caranya kamu bisa mengetahui pikiranku?

“Sudah kubilangkan? Keajaiban adalah jawaban untuk segalanya.”

Tunggu dulu, kamu melakukannya lagi, ah sudahlah biarkan saja.

“Ya sudah, kalau tak ada lagi yang ingin kamu tanyakan aku mau pergi duluan ya, sampai jumpa.”

Begitulah, kepergian Juy menandakan akhir dari ceritaku ini. Lalu, inti dari ceritaku ini adalah, bila kita melihatnya dengan teliti, dunia ini ternyata memiliki miliaran dunia lain. Karena dunia ini tergantung cara kita melihatnya. Bagiku mungkin dunia ini adalah sebuah dunia yang terjebak dalam rutinitas yang membosankan, tetapi setelah aku percaya pada keajaiban, aku melihat bahwa dunia ini penuh dengan hal-hal aneh yang menarik untuk dilakukan.

—————————————————————————————————————————

Begitulah, ada komentar?

Ini adalah Cerpen aneh yang terinspirasi dari kespontanan…

Tapi aku lumayan suka dengan puisi ini loh…

Iklan

11 responses to “Confusing Confused Story

  1. Waduh panjang…..

  2. panjang bener…
    jadi kenapa kalian bertiga disebut trio aneh?
    salam

  3. “Sudah kubilangkan? Keajaiban adalah jawaban untuk segalanya.”

    Jawaban paling mujarab… 😆

  4. @joyo

    Karena kami ‘berbeda’ dan ‘diluar akal’

    @alex

    jawaban paling mujarab setelah “Nggak semuanya kamu harus tahu kan?”

  5. Kupipes ? 😕

    Hehehe….Bagus juga. :mrgreen:

  6. yap.

    CTRL+C dan V

    yang terhormat

    tadinya sih buat tugas bahasa indonesia

  7. komen dulu ach…
    baru baca 😀

  8. anehnya dimana ya 😕

    *oon mode : ON*

  9. Kayaknya gw pernah dipaksa kasih komentar soal cerita aneh ini…

    Ngaku kamu HARUHI!

  10. saya ngaku!!!!!!!!!!!

    wah ada layangan…..:lol:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s